Praise God, hari ini aku belajar banyak hal, bagaimana meraih sebuah mimpi yang harus disertai perjuangan dengan segala kemungkinan yang ada. Untuk pertama kali dalam sejarah hidup gue, membaca dalam musikalisasi puisi. Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu selama acara berlangsung. Gue akui gue belum bisa tampil maksimal tadi, banyak evaluasi yang harus di follow up, mulai teknik mic, penguasaan panggung, intonasi, artikulasi, persiapan materi yang harus dari jauh-jauh hari (maklum persiapan cuma H-1, lebih tepatnya 21 jam menuju acara berlangsung*sangat tidak dianjurkan), body language, dan yang penting 'feel' memberi nyawa dalam puisi. Gue rasa gue tadi seperti patung, fokus gue bukan pada pesan yang ingin gue sampaikan pada audience, tapi nggak tw fokus buyar di mana, merasa salah tempat salah acara.
Awalnya sempat ragu apakah akan terus melaju mengingat kesalahan tema yang buat serangan tremor mendadak, sumpah gue nggak tau kalo malam puisi kali ini temanya akustik revolusi, dan gue nyiapin bait puisi mellow abis.(efekgagalpahamgagaltemagagalmoveon), tapi gw percaya di dunia ini nggak ada yang sia-sia, Tuhan menaruh gw di suatu peristiwa bukan tanpa alasan, melainkan karena Dia tahu gw kuat menanggungnya di dalam Dia yang memampukan. Pertama datang tanya gimana cara register, trus ditanyain brapa jumlah followers, nah ini nih yang bikin gue sedikit patah hati, karena baru dapat followers 270-an (numpang promo @arthadream), lanjut order mochaccino coffe and french fries. Sembari menunggu dapat banyak pelajaran ketika menikmati suguhan acara malam puisi di Oost Cafe Surabaya 2 November 2013. Ini bisa jadi salah satu pelajaran di hidup gw, hello effect itu perlu WOW FACTOR dan gue harus asah itu, dan terjadi lagi tendensi manusia dalam menilai seseorang dari penampilan, padahal kalo ditelaah lebih dalam setiap insan berpotensi untuk jadi guru bagi sesama. Hari ini aku belajar bahwa di atas langit masih ada langit, seseorang yang menurutku terlihat biasa dalam challenges menggombal ternyata sangat jago dalam totalitas musikalisasi puisi, dan segala hal bisa saja terjadi tiba-tiba, oleh karenanya gue harus lebih peka, salah satunya saat gue jadi sasaran teriakan ekspresi peserta musikalisasi puisi dari Malang, misalnya. Dia benar-benar dekat dan teriak di telinga kanan gue, speechless dan nggak ngerti harus ngapain (mungkin GCS gue menurun jadi 10). Trus seharusnya gue bawa buku2 gue yang udah release, kan bisa skaligus promosi.*ups
Gue merasa lega, setidaknya uneg-uneg gue udah tersalurkan. Tapi, ini bukan akhir dari segalanya, ini hanyalah langkah awal untuk pijakan asa yang harus kuraih. Meskipun mungkin ini salah satu pertanda dari Tuhan, kamu bukanlah pemilik ruang hati, tapi gue tetap mau berterima kasih karena kamu telah memberi warna dan inspirasi dalam perjalanan hidupku.#VAT
Jadi, untuk ke depannya harus lebih baik, minta penyertaan Tuhan, prepare yang lebih maksimal dan totalitas dalam perform.