"Kenapa dia pergi?" kata-kata itu selalu mengisi buku harianku sepekan ini. Bagaimana tidak, orang yang selama ini mengisi lembaran hariku tiba-tiba pergi tanpa kabar.
Padahal, aku belum sempat mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi jauh melupakan aku, bahkan aku pun belum mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padanya.
… … … … … …
"Hei, woi nglamun aja loe?" tiba-tiba suara Sisi membuyarkan lamunanku.
"Eh, tumben loe nyamperin gue? Mana aja loe baru nongol?"
"Yeleh, gimana sih loe? Gue khan sobat loe, dari tadi gue teriak-teriak panggil loe dari dalam kelas sampe temen-temen kupingnya budeg. Eh, loe yang dipanggil malah nggak ngerasa. Padahal, dari kelas sampe teras kelas cuma berjarak 4 meter kan? By the way, loe nglamunin apaan sih kok sampe-sampe aku panggil aja nggak … …"
"Stop. Kalo loe ngomong terus kapan gue ngejelasinnya? Ehm, sebelum gue jelasin, gue mo tanya tentang maksud omongan loe yang barusan."
"Tentang omongan yang mana?"
"Waktu loe bilang loe teriak manggil-manggil gue dari dalam kelas sampe kuping temen-temen budeg. Emang kuping temen-temen budeg apaan sih? Yang ada malah makanan gudeg temen-temen habis loe santap. Hikss… Hikss…"
"Yeleh, maksud gue tuch, gue teriak-teriak manggil loe sampe telinga temen-temen tuli. He..He.. Nah, gitu dong kalo ketawa khan manis diliatnya. Sedap memang terasa."
"Itu khan iklan mie Sedap. Hik.. Hik.. By the way, makasih ya dah mo hibur gue."
"Ye pede plus ge-er amat sich loe.Siapa sich loe? Suka-suka gue dong."
"Oww… gitu. Ya udah ngapain loe ke sini segala. Sono pergi jauh dari gue, ntar gue teyeng lagi."
"He..Itu khan kata-kata gue. Hari gini masih peterokan?"
"Apa-an tuch peterokan. Yang ada kota Peterongan."
"Yeleh, maksudnya tuch hari gini masih ja niruin kata-kata gue. Lagu lama masih difotocopy?"
"I don't think so. Because as we know that your words are normally used in Javanese daily."
"Stop. Ngomong sama tangan. Loe ngomong apa-an sich kok pake norma sus, nggak ada kali. Menurut buku yang gue baca, dalam pelajaran Sosiologi yang ada tuch norma hukum, norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan dan norma kebiasaan."
"Ye, maksud gue normally used."
"Oww..gitu tow ceritanya."
"Ah, udah. Ntar gue nggak jadi cerita dong kalo loe ngoceh terus kaya burung menco yang habis diberi kroto? Gimana nich gue jadi cerita nggak?"
"Ya iyalah masa ya iyo. Greenleaf band aja judul lagunya cobalah masa cobayo."
"Si, kemarin sore sepulang les bahasa Inggris gue mampir ke rumah Tari buat ambil buku diktat bahasa Indonesia yang doi pinjem."
"Tari , temen loe SMP dulu?"
"Yoi."
"Lha terus apa hubungannya? Kok loe sekarang sedih, emang sama Tari buku loe dicoret-coret?"
"Nggak."
"Lha iya ko sedih? Kan loe paling nggak suka buku loe dicoret-coret. Ehm.. loe dimaki sama Tari?"
"Nggak."
"Ehm, yang ini excuse gue pasti benar. Di buku loe ada salah satu lagu ciptaan loe buat Venus hilang trus di depan loe doi nyanyi lagu itu trus pake ngaku doi yang captain lagu itu. Iya, bener kan?"
"Bukan. Nggak itu."
"Lha terus apa?"
"Kemarin sore doi cerita kalo doi ketemu Venus siang harinya di depan boutique Serafina. Trus loe tau nggak, selama Tari ketemu Venus dia cuma bilang lho. Katanya Venus juga kaget liat Tari. Karena mereka sama-sama kaget mereka cuma bilang lho. Padahal loe tau nggak sich, Tari itu sahabat gue dari SMP, doi juga tau gimana pahit getir perjuangan gue untuk jadi akrab bahkan bisa sering main ke rumah Venus walau cuma jadi sahabat and partner belajar bahasa Inggris. Kenapa sich Tari nggak bilang gue mo ketemu dengan Venus? Kenapa doi nggak bilang gue mo ketemu meskipun hanya sebentar? Tiap hari gue ke Warnet Barbie nanya operatornya apa Venus mampir ke situ, tiap hari gue lewat rumah Venus yang lama. Rumah yang jadi saksi keakraban gue dengan Venus, sampe-sampe gue malu karena terlalu seringnya gue tanya ke operator warnet dan seringnya gue lewat depan rumah lama doi. Gue ingin ketemu. Eh, giliran Tari yang diberi kesempatan ketemu dia cuma bilang lho." Tak terasa air mata jatuh ke pipi dan tanganku.
"Udah dong Ela, jangan sedih gitu kan masih banyak Venus-Venus yang lain di bumi ini. Bahkan kalo loe mau, loe bakal gue carikan 1000 Venus dalam sehari."
"Ye, kok loe kayak mo bangun 1000 patung untuk satu candi dalam semalam seperti di cerita Bandung Bondowoso Roro Jonggrang sich? Loe tau nggak masa hanya gara-gara gue cerita gue dapat boneka dari temen cowok gue and gue sering jalan ma doi trus Venus pergi gitu aja tanpa ngasih kabar. Bahkan Venus juga pernah ngirim pesan kalo gue udah jadian ma doi, gue nggak boleh lupa buat ngasih PJ ke Venus. Padahal doi itu temen akrab Venus sejak SMP. Huh, bego, stupid, stupid. Ngapain gue cerita itu ke Venus!"
"Udah dong jangan terus-terusan nyalahin diri loe sendiri. Nggak bakal nyelesein masalah tau. Ehm, sebentar aku dapat telepon dari Firman."
"Huh.."
"Ela, gue tinggal dulu ya? Loe nggak usah sedih. Tenang, loe ada gue yang siap bantu loe kapanpun loe mau. Kalo loe butuh apa-apa SMS gue. Gue rasa loe butuh waktu buat sendiri untuk bisa berpikir jernih kembali."
"Maksud loe ngomong barusan apa. Oww, jadi loe ninggalin gue dengan keadaan kayak gini dan loe sekarang mau pergi pacaran berduaan dengan Firman. Ya udah, gue nggak akan ganggu kalian. Mentang-mentang baru dapat telepon dari Firman, loe langsung aja mau nyelonong pergi. Sono pergi!"
"Maafin gue La. Please, dengerin gue. Gue nggak bermaksud kayak gitu. Gue cuma ingin loe sadar, loe masih punya gue dan temen-temen yang lain yang siap bantu loe dan hibur loe di saat loe butuhin. Dan gue yakin sekarang loe butuh waktu buat nenangin diri loe."
"Iya, iya. Udah sana pergi ntar Firman ngambek lagi gara-gara nunggu loe."
"Makasih La. Moga loe cepat dapat solusi."
Mungkin benar apa yang sudah dikatakan Sisi. Tapi, aku nggak yakin karena bisa aja khan dia ngomong begitu supaya punya waktu untuk berduaan dengan Firman. Whatever? Aku tetap percaya kok sama Sisi, toh apa yang dia saranin ke gue, bisa gue bilang 90% saran dia rasional dan bijaksana.
"Hei, sendirian aja. Lagi ngapain?"
"Eh, Abi. Nggak lagi ngapa-ngapain kok."
"Ehm, kok mata kamu sembab? Kamu habis nangis ya?"
"Nggak."
"Jangan bohong."
"Iya, iya. Aku habis nangis."
"Kenapa?"
"Private problem."
"I see. So, don't you share with me?"
"I'm sorry. I can't."
"No problem. But, if you need something, you can ask me. Don't be shy."
"Sure. Beibh,"
"What? Apa barusan aku dengar? Kamu panggil aku Beibh?"
"Oh, maaf aku tadi salah ucap. Maksud aku Abi."
Hampir aja aku keceplosan. Memang sih aku sempat terpesona dengan Abi, bagaimana tidak model rambut, hobi, sama-sama atlet, gaya bicara, penampilan, sifat cuek seperti Venus yang dimiliki Abi membuat aku tertarik padanya. Beibh adalah nama panggilan sayangku untuk Venus, tapi mungkin Venus mikir kalo Beibh itu gue tujukan ke doi karena sifatnya yang kadang-kadang seperti anak kecil.
"By the way, ntar kamu masuk les nggak?"
"Ya, masuk kok." Bagaimana mungkin aku melewatkan waktuku begitu saja tanpa kamu, Bi. Kalo aja kamu tau aku kagum sama kamu. Aku suka kamu. Tapi, aku sangsi dengan perasaan ini. Jangan-jangan aku suka kamu hanya karena kemiripanmu dengan Venus.
Tett… Tett... Tak terasa bunyi bel berdering membuyarkan lamunanku dan segera sesudah itu Abi pamit dan aku kembali ke kelas dengan membawa sejuta pertanyaan.
… … … … … …
Tiga bulan telah berlalu.
Pesona Abi tak mampu menghapus bayangan Venus dari pikiranku. Yang kulakukan hanyalah mencipta lagu untuknya untuk menghibur diriku sendiri atas kepergiannya. "My Sweet Heart".
My Sweet Heart
3 2 3 1 │ 3 2 3 1 │
Saat ini diri ini
2 3 4 . │ 4 4 3 4│5 5 2 .│
Tak tahu apa yang terjadi…
3 3 2 2 │1 1 7 1│
°
Hanya satu kusesali
2 3 4.│4 4 3 4│55. 2│
Cintamu bukanlah untukku
6 7 1 2│ 3 ... │ 3 3 2 2 │ 1 1 7 .│1 2 6 .│
° ° ° °
Tapi ku coba . . . untuk tetap jadikan dirimu
1 7 . . │1 2 1 .│
°
Bintang Hatiku
2 3 4 5│6 . . . │
Harus ku coba
6 7 1 2│3 . . . │
° °
Melupakanmu
3 3 2 2 │1 1 7 7│11 . .│
Meski perih sakit hati ini
3 4 5 .│
Mencoba
4 4 3 3│2 2 33│3 . 4 4│
Mengobati rasa ini sendiri
6 7 1 2│ 3 ... │ 3 3 2 2 │ 1 1 7 .│1 2 6 .│
° ° ° °
Tapi ku coba . . . untuk tetap jadikan dirimu
1 7 . . │1 2 1 .│
° °
Bintang Hatiku
Suatu sore di bulan Maret, aku mengajak Tari ke Warnet Sedudo. Aku terkejut karena di sana bertemu dengan Davin. Davin adalah kakak kelasku sekarang, meskipun letak kelas kita berjauhan, namun sejak SMP kelas VIII aku sudah mengenalnya dan keluarganya, karena aku adalah guru piano adiknya yang sekarang sedang duduk si bangku SMP kelas VIII. Namun, saat itu adiknya, Jonathan, masih kelas 5 SD. Dan sebagai gantinya, aku diajari Davin computer, karena doi gape banget mainin computer. Hal ini kulakukan sebagai bentuk usaha pdkt dengannya. Meskipun hanya berlangsung selama ± 1 tahun, tapi aku merasa bahagia sebelum akhirnya kuputuskan untuk berhenti jadi guru piano Jojo, nama panggilan adik Davin karena waktu itu aku tahu dari Tari jika Davin hanya menganggap aku sebagai adiknya. Jadi, kurasa percuma saja bila tetap melakukan usaha pdkt dengan Davin. Akhirnya, tanggal 21 Februari 2008 kuputuskan untuk berhenti jadi guru piano Jojo. Dan sejak saat itu aku mulai belajar menganggap Davin sebagai kakak.
Namun, sejak pertemuan dengan Davin sore itu dan ditambah lagi kata-kata Tari jika Davin dan aku terlihat cocok sekali bila disandingkan sebagai kekasih membuat pikiranku terjejali bayangan Davin yang mengusik hatiku antara kenangan dan harapan masa lalu dengan kenyataan hari ini. Malam tanggal 15 April 2009 Davin menyatakan perasaannya kepadaku. Dia menyukaiku dan ingin agar aku jadi kekasihnya bukan lagi seperti asumsi masing-masing ketika hanya sebatas kakak dan adik, senior dan junior, atau guru dan murid. Selama ini, Davin membohongiku bila kehadiran dia hanya ingin ku anggap sebagai kakak.
Terang saja aku kaget saat itu. Kupikir ajakan Davin untuk makan malam adalah untuk merayakan ultahnya di bulan April atau sekedar menanyakan property untuk prepare ultahnya yang masih seminggu lagi. Aku meminta waktu untuk memberinya jawaban atas pertanyaannya itu. Dan kupikir ini adalah keputusan yang paling tepat.
Hampir semalaman aku tak bisa tidur memikirkan peristiwa 15 April 2009 itu. Kupikir jika hal ini kuceritakan pada Tari dan Sisi, tanpa ragu lagi mereka akan mendukung langkah Davin dan menyuruhku menerimanya saja dengan excuse tak ada gunanya aku menunggu Venus yang sampai saat ini tak diketahui rimbanya. Hanya akan membuang waktu saja bila terus menunggunya. Tapi aku semakin gelisah bila tidak menceritakan ini pada mereka. Akhirnya, kuceritakan keesokan harinya. Dan benar saja, Tari memberi jawaban sama persis seperti yang telah aku pikirkan. Namun, tidak demikian dengan Sisi. Bagiku jawaban Sisi cukup bijaksana. Dia ingin agar aku berpikir sejenak untuk selang beberapa hari sering date dengan Davin. Bila aku merasa nyaman ketika berada bersama Davin, berarti aku harus menerima cintanya. Namun, bila aku merasakan ada sesuatu yang kurang ketika jalan dengannya, itu berarti aku harus melepaskan Davin untuk yang lain.
Telah sepekan kujalani hari dengan kehadiran Davin. Namun, aku tak bisa membohongi diriku jika selama ini ketika bersama Davin ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang hanya bisa kurasakan ketika bersama seseorang yang telah mengisi hatiku saat ini, Venus, seseorang yang aku cintai. Aku sadar. Aku hutang penjelasan dengan Davin. Keesokan paginya, aku langsung pergi ke sekolah dan menuju tempat yang sudah aku janjikan untuk bertemu dengan Davin. Aku yakin Davin pasti juga sudah datang karena pesanku via facebook sudah kukirim sejak kemarin sore.
Akhirnya, pagi itu adalah pagi yang melunaskan hutang penjelasanku pada Davin. Aku tak peduli apakah setelah mendengar penjelasanku di H-1 ultahnya akan membuatnya marah atau benci padaku. Sengguh aku tak memperdulikan hal itu.
Dan aku telah memutuskan untuk tetap menunggu Venus, meskipun tanpa kepastian. But, I think this is my best way. Tapi ku coba untuk tetap jadikan dirimu "Bintang Hatiku". Aku yakin ini adalah keputusan yang paling bijaksana.
Please, come back to me, my sweet heart.
Jumat, 12 November 2010
CERPEN LOVE IS CAN'T BE PREDICTED
CINTA TAK DAPAT DIPREDIKSI
Pagi itu, SMA ST. VINCENTIUS heboh. Heboh bukan karena ada event besar, tapi karena kedatangan anak baru yang bisa dikatakan idaman para kaum adam. Bagaimana tidak, dara baru ini perawakannya sporty dan style-nya feminim. Tentu saja hal ini membuat iri para gadis SMA ST. VINCENTIUS tak terkecuali Ave. Baru kali ini Ave membenci anak baru, bukan karena kecantikan yang dimiliki namun karena sewaktu SD mereka bermusuhan.
“Eva Emmerick, perkenalkan dirimu di depan kelas barumu!” seru Bu Mischa, guru mata pelajaran Biologi kelas X-5.
“Baik Bu. Teman-teman perkenalkan nama saya Eva Emmerick. Panggil saja saya Eva. Saya lahir di Jogya dan dari kecil sampai SD tinggal di Jogya. Lalu, mulai SMP saya pindah di Surabaya. Selanjutnya sekarang saya pindah kembali ke Jogya. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua.”
“Wuih, Ve. Namanya mirip namamu.”
“Mirip kata loe? Cih, Jangan pernah samain gue sama dia. Amit-amit.”
“Eva silahkan duduk di samping Natanhael. Dia bintang kelas ini, jadi selama kamu ada kesulitan, kamu bisa langsung menanyakannya. Natan, tolong kamu bantu Eva bila dia mengalami kesulitan. Dan Ave, sementara kamu duduk di depan, di samping Alex!”perintah Bu Mischa.
“Tapi, Bu” elak Ave.
“Michellina Ave, untuk sementara saja. Ibu tahu kalian telah bersahabat dari SMP, tapi sekarang teman kalian sedang membutuhkan bantuan kalian.”
“Siap, Bu” seru Natan dengan semangat.
“Ih!” gerutu Ave sambil menginjak kaki Natan dengan kesal.
“Auw.”
Akhirnya Ave menuruti perintah Bu Mischa dan pelajaran subbab ekosistem pun dilanjutkan.
…..….. ………. …..….. …..….. ……….
“Huh. Sebel gue. Kenapa anak ingusan itu muncul lagi di kehidupan gue. Dasar sampah masyarakat. Masalah datang deh. Musibah kalo dia duduk di samping Natan. Jealous. Jealous” maki Ave selama perjalanan pulang yang waktu itu tak ditemani Natan yang masih sibuk menemani Eva mengejar materi yang belum dia pahami.
Semakin hari kedekatan antara Eva dan Natan semakin mencolok. Tentu saja hal ini membuat Ave uring-uringan. Setiap bertemu dengan teman-teman Ave, pasti yang mereka tanyakan adalah kedekatan Eva dan Natan. Setiap ngobrol dengan Natan pun, Natan gencar menceritakan keakrabannya dengan Eva.
Siang itu, OSIS SMA ST. VINCENTIUS mengadakan rapat untuk membahas persiapan festival band untuk puncak acara HUT SMA ST. VINCENTIUS. Tiba-tiba Ave marah dan membentak Willam, koordinator sie perlengkapan yang kala itu menanyakan pendapat berkaitan property festival. Untungnya William diam saja dan tak membalas makian adik kelas yang jelas-jelas salah.
“Ve, nanti malam aku mau cerita.”
Begitu bunyi SMS dari Natan yang diterima Ave sepulangnya dari sekolah. Ave tak membalas. Sejurus dia diam. Mencoba menebak apa yang akan menjadi topik nanti malam. Tiba-tiba lamunan Ave buyar.
“Pasti cewek sialan itu lagi!” teriak Ave dari dalam kamarnya.
“Ada apa Ve? Siapa yang sial? Sial kenapa?” tanya Cornel, kakak Ave.
“Nggak ada apa-apa Mas.”
Prediksi Ave tak meleset. Malam itu Natan cerita tentang banyak hal, tak terkecuali Eva. Rasanya sesak dada Ave mendengar pengakuan Natan di salah satu ceritanya jika dia menyukai Eva. Seusai percakapan mereka di telepon, langsung disambarnya Roman, buku diary Ave yang setiap lembarnya tak pernah absen dari nama Natan. Ave lalu menangis dan mulai menulis cerita tentang hal apa yang baru saja didengarnya dari Natan. Paginya, ketika Ave masih terlelap, Cornel masuk ke kamar Ave dan seketika itu dibacanya diary yang masih digenggam Ave. Bunyi dering weker Ave yang membuat Cornel menyudahi membaca diary Ave dan cepat-cepat mengembalikannya di genggaman adiknya.
Sore hari Cornel meluncur ke sekolah Ave untuk menjemputnya mengingat pagi harinya adik semata wayangnya itu berangkat dengan naik angkot. Di saat menunggu itu, William lewat dan Cornel menyuruhnya untuk berhenti lalu menanyakan keberadaan Ave. William menjawab kalo Ave sedang ikut ekstra. Semula William sempat jealous dan salting melihat dan mendengar bahwa lelaki tampan yang ada dihadapannya menanyakan tentang Ave. Dari sikap yang ditunjukkan William, Cornel tahu jika William sedang jatuh cinta pada adiknya. Lama mereka bercakap-cakap, termasuk cerita tentang Natan dan dari percakapan itu William tahu bahwa lelaki tampan itu adalah kakak Ave.
Benar saja, seminggu kemudian Natan dan Eva jadian. Tentu saja hal ini membuat Ave frustasi dan ingin pindah sekolah. Niat ini sudah diutarakannya pada Cornel yang kemudian Cornel ceritakan pada William.
“Ve, jangan pindah.”
“Apa-apaan sih lo, kak. Tangan loe juga ngapain nahan tahan gue!”
“Gue mohon loe jangan pindah sekolah.”
“Darimana loe tau gue mau pindah?”
“Pertanyaan itu nggak perlu gue jawab. Yang penting sekarang loe tunggu gue di depan gerbang sekolah.”
“Tapi buat apa?”
Pertanyaan Ave yang terakhir tak digubris William yang kemudian pergi menuju tempat parkir. Tak lama kemudian Ave dan William telah berada di kawasan rumah kumuh setelah berhasil pergi dari sekolah dengan alasan pergi membeli property festival band. Mereka menuju salah satu rumah yang penghuninya adalah seorang nenek tua yang renta dan hidupnya sebatang kara. Nenek itu terlihat kurus sekali, tapi dia tetap bekerja dengan mesin jahitnya yang telah usang. Sedikitpun tak pernah terlontar keluhan dari mulut sang nenek. Tak banyak yang Ave tanyakan melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
William telah memberi pencerahan di hidup Ave. Akhirnya Ave urungkan niat untuk pindah sekolah. Satu tahun lebih telah berlalu dengan cepat. Tak terasa William telah menyelesaikan UNAS dan kini dia juga telah diterima di salah satu universitas ternama di ibukota. Hal ini mengharuskan kedekatan antara dirinya dan Ave semakin renggang, apalagi setelah status fb William yang berubah dari Complicated menjadi in relationship.
Hubungan Natan dan Eva ternyata hanya bertahan sampai 10 bulan. Kandasnya hubungan mereka dipicu oleh sifat manja Eva yang semakin hari semakin kentara. Setelah Natan putus dari Eva, dia kembali dekat dengan Ave. Tak butuh waktu yang lama untuk menjalin keakraban lagi bagi Natan dan Ave. Memori-memori lama bersama Natan mulai bermunculan. Hal ini membuat hati Ave terusik. Di saat itu, Natan mengutarakan niatnya untuk menjadikan Ave sebagai pujaan hatinya. Hal ini sebenarnya telah dinantikan Ave sejak lama, namun ketika kesempatan itu datang, Ave malah lari.
Selama Natan jadian dengan Eva, Ave sadar jika cinta tak bisa dipaksakan. Dia berusaha merelakan Natan untuk menjalin hubungan dengan Eva dan meredam permusuhannya dengan Eva. Semua itu berkat bantuan seseorang. Seseorang ini telah membuat warna di hidupnya. Sosok ini pula yang dirindukan Ave akhir-akhir ini. Sosok yang membuatnya bisa tegar setegar batu karang yang tak henti diterpa gelombang. Sosok yang dirindukannya tak lain adalah William.
Akhirnya waktu liburan semester tiba, Ave datang untuk menjemput William di terminal. Seketika itu juga terperanjaklah William melihat Ave datang berlari ke arahnya.
“Kak William, lama nggak bertemu. Gimana kabarmu?”
“Baik, Ve. Ve, kok kamu tau hari ini aku pulang?”
“Aku tau dari status fb-mu kak. Aku mau tanya, please jawab dengan jujur.”
“Tentang apa? Kelihatannya serius.”
“Apa kakak sudah punya pacar?”
“Kenapa kamu tanya tentang hal ini?”
“Please kak, jawab iya atau tidak.”
“Well, perhaps now is good time to say about honesty. Since 2nd grade in Senior High School there was one girl, who always makes my life spirit. She always attend in my dream, she always can make me laugh. Do you know who is she?”
“Surely I don’t know about her.”
“Now, she is stand up in front of me.”
“What? Is it true what I’ve heard?”
“She is you.”
“So?”
“So, actually at my fb is lie. I put that status because I want to concentrate to UNAS. And actually your brother knew it. Exactly, he makes me realize about my truly feeling.”
“My brother know about it? It’s mean that he is people who was behind the scenario?”
“No. But, love is can’t predict.”
Pagi itu, SMA ST. VINCENTIUS heboh. Heboh bukan karena ada event besar, tapi karena kedatangan anak baru yang bisa dikatakan idaman para kaum adam. Bagaimana tidak, dara baru ini perawakannya sporty dan style-nya feminim. Tentu saja hal ini membuat iri para gadis SMA ST. VINCENTIUS tak terkecuali Ave. Baru kali ini Ave membenci anak baru, bukan karena kecantikan yang dimiliki namun karena sewaktu SD mereka bermusuhan.
“Eva Emmerick, perkenalkan dirimu di depan kelas barumu!” seru Bu Mischa, guru mata pelajaran Biologi kelas X-5.
“Baik Bu. Teman-teman perkenalkan nama saya Eva Emmerick. Panggil saja saya Eva. Saya lahir di Jogya dan dari kecil sampai SD tinggal di Jogya. Lalu, mulai SMP saya pindah di Surabaya. Selanjutnya sekarang saya pindah kembali ke Jogya. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua.”
“Wuih, Ve. Namanya mirip namamu.”
“Mirip kata loe? Cih, Jangan pernah samain gue sama dia. Amit-amit.”
“Eva silahkan duduk di samping Natanhael. Dia bintang kelas ini, jadi selama kamu ada kesulitan, kamu bisa langsung menanyakannya. Natan, tolong kamu bantu Eva bila dia mengalami kesulitan. Dan Ave, sementara kamu duduk di depan, di samping Alex!”perintah Bu Mischa.
“Tapi, Bu” elak Ave.
“Michellina Ave, untuk sementara saja. Ibu tahu kalian telah bersahabat dari SMP, tapi sekarang teman kalian sedang membutuhkan bantuan kalian.”
“Siap, Bu” seru Natan dengan semangat.
“Ih!” gerutu Ave sambil menginjak kaki Natan dengan kesal.
“Auw.”
Akhirnya Ave menuruti perintah Bu Mischa dan pelajaran subbab ekosistem pun dilanjutkan.
…..….. ………. …..….. …..….. ……….
“Huh. Sebel gue. Kenapa anak ingusan itu muncul lagi di kehidupan gue. Dasar sampah masyarakat. Masalah datang deh. Musibah kalo dia duduk di samping Natan. Jealous. Jealous” maki Ave selama perjalanan pulang yang waktu itu tak ditemani Natan yang masih sibuk menemani Eva mengejar materi yang belum dia pahami.
Semakin hari kedekatan antara Eva dan Natan semakin mencolok. Tentu saja hal ini membuat Ave uring-uringan. Setiap bertemu dengan teman-teman Ave, pasti yang mereka tanyakan adalah kedekatan Eva dan Natan. Setiap ngobrol dengan Natan pun, Natan gencar menceritakan keakrabannya dengan Eva.
Siang itu, OSIS SMA ST. VINCENTIUS mengadakan rapat untuk membahas persiapan festival band untuk puncak acara HUT SMA ST. VINCENTIUS. Tiba-tiba Ave marah dan membentak Willam, koordinator sie perlengkapan yang kala itu menanyakan pendapat berkaitan property festival. Untungnya William diam saja dan tak membalas makian adik kelas yang jelas-jelas salah.
“Ve, nanti malam aku mau cerita.”
Begitu bunyi SMS dari Natan yang diterima Ave sepulangnya dari sekolah. Ave tak membalas. Sejurus dia diam. Mencoba menebak apa yang akan menjadi topik nanti malam. Tiba-tiba lamunan Ave buyar.
“Pasti cewek sialan itu lagi!” teriak Ave dari dalam kamarnya.
“Ada apa Ve? Siapa yang sial? Sial kenapa?” tanya Cornel, kakak Ave.
“Nggak ada apa-apa Mas.”
Prediksi Ave tak meleset. Malam itu Natan cerita tentang banyak hal, tak terkecuali Eva. Rasanya sesak dada Ave mendengar pengakuan Natan di salah satu ceritanya jika dia menyukai Eva. Seusai percakapan mereka di telepon, langsung disambarnya Roman, buku diary Ave yang setiap lembarnya tak pernah absen dari nama Natan. Ave lalu menangis dan mulai menulis cerita tentang hal apa yang baru saja didengarnya dari Natan. Paginya, ketika Ave masih terlelap, Cornel masuk ke kamar Ave dan seketika itu dibacanya diary yang masih digenggam Ave. Bunyi dering weker Ave yang membuat Cornel menyudahi membaca diary Ave dan cepat-cepat mengembalikannya di genggaman adiknya.
Sore hari Cornel meluncur ke sekolah Ave untuk menjemputnya mengingat pagi harinya adik semata wayangnya itu berangkat dengan naik angkot. Di saat menunggu itu, William lewat dan Cornel menyuruhnya untuk berhenti lalu menanyakan keberadaan Ave. William menjawab kalo Ave sedang ikut ekstra. Semula William sempat jealous dan salting melihat dan mendengar bahwa lelaki tampan yang ada dihadapannya menanyakan tentang Ave. Dari sikap yang ditunjukkan William, Cornel tahu jika William sedang jatuh cinta pada adiknya. Lama mereka bercakap-cakap, termasuk cerita tentang Natan dan dari percakapan itu William tahu bahwa lelaki tampan itu adalah kakak Ave.
Benar saja, seminggu kemudian Natan dan Eva jadian. Tentu saja hal ini membuat Ave frustasi dan ingin pindah sekolah. Niat ini sudah diutarakannya pada Cornel yang kemudian Cornel ceritakan pada William.
“Ve, jangan pindah.”
“Apa-apaan sih lo, kak. Tangan loe juga ngapain nahan tahan gue!”
“Gue mohon loe jangan pindah sekolah.”
“Darimana loe tau gue mau pindah?”
“Pertanyaan itu nggak perlu gue jawab. Yang penting sekarang loe tunggu gue di depan gerbang sekolah.”
“Tapi buat apa?”
Pertanyaan Ave yang terakhir tak digubris William yang kemudian pergi menuju tempat parkir. Tak lama kemudian Ave dan William telah berada di kawasan rumah kumuh setelah berhasil pergi dari sekolah dengan alasan pergi membeli property festival band. Mereka menuju salah satu rumah yang penghuninya adalah seorang nenek tua yang renta dan hidupnya sebatang kara. Nenek itu terlihat kurus sekali, tapi dia tetap bekerja dengan mesin jahitnya yang telah usang. Sedikitpun tak pernah terlontar keluhan dari mulut sang nenek. Tak banyak yang Ave tanyakan melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
William telah memberi pencerahan di hidup Ave. Akhirnya Ave urungkan niat untuk pindah sekolah. Satu tahun lebih telah berlalu dengan cepat. Tak terasa William telah menyelesaikan UNAS dan kini dia juga telah diterima di salah satu universitas ternama di ibukota. Hal ini mengharuskan kedekatan antara dirinya dan Ave semakin renggang, apalagi setelah status fb William yang berubah dari Complicated menjadi in relationship.
Hubungan Natan dan Eva ternyata hanya bertahan sampai 10 bulan. Kandasnya hubungan mereka dipicu oleh sifat manja Eva yang semakin hari semakin kentara. Setelah Natan putus dari Eva, dia kembali dekat dengan Ave. Tak butuh waktu yang lama untuk menjalin keakraban lagi bagi Natan dan Ave. Memori-memori lama bersama Natan mulai bermunculan. Hal ini membuat hati Ave terusik. Di saat itu, Natan mengutarakan niatnya untuk menjadikan Ave sebagai pujaan hatinya. Hal ini sebenarnya telah dinantikan Ave sejak lama, namun ketika kesempatan itu datang, Ave malah lari.
Selama Natan jadian dengan Eva, Ave sadar jika cinta tak bisa dipaksakan. Dia berusaha merelakan Natan untuk menjalin hubungan dengan Eva dan meredam permusuhannya dengan Eva. Semua itu berkat bantuan seseorang. Seseorang ini telah membuat warna di hidupnya. Sosok ini pula yang dirindukan Ave akhir-akhir ini. Sosok yang membuatnya bisa tegar setegar batu karang yang tak henti diterpa gelombang. Sosok yang dirindukannya tak lain adalah William.
Akhirnya waktu liburan semester tiba, Ave datang untuk menjemput William di terminal. Seketika itu juga terperanjaklah William melihat Ave datang berlari ke arahnya.
“Kak William, lama nggak bertemu. Gimana kabarmu?”
“Baik, Ve. Ve, kok kamu tau hari ini aku pulang?”
“Aku tau dari status fb-mu kak. Aku mau tanya, please jawab dengan jujur.”
“Tentang apa? Kelihatannya serius.”
“Apa kakak sudah punya pacar?”
“Kenapa kamu tanya tentang hal ini?”
“Please kak, jawab iya atau tidak.”
“Well, perhaps now is good time to say about honesty. Since 2nd grade in Senior High School there was one girl, who always makes my life spirit. She always attend in my dream, she always can make me laugh. Do you know who is she?”
“Surely I don’t know about her.”
“Now, she is stand up in front of me.”
“What? Is it true what I’ve heard?”
“She is you.”
“So?”
“So, actually at my fb is lie. I put that status because I want to concentrate to UNAS. And actually your brother knew it. Exactly, he makes me realize about my truly feeling.”
“My brother know about it? It’s mean that he is people who was behind the scenario?”
“No. But, love is can’t predict.”
ARRGHH!!!!CINTA PERTAMA
ARRGH! CINTA PERTAMA?
Pagi itu udara dingin menyeruak kota pahlawan setelah sehari sebelumnya diguyur hujan sehingga rasanya enggan untuk beranjak dari peraduan, hingga akhirnya membawa sepasang remaja datang terlambat ke sekolah.
“Bun, berangkat ya?” ucap seorang gadis pada ibunya.
“Iya, Nak. Hati-hati. Maaf Bunda tak bisa mengantar ke sekolah barumu. Nanti yang ramah ya, Nak. Jangan lupa ….,” belum sempat Ibu itu menyelesaikan kalimatnya sudah terpotong ujaran putrinya.
“Iya, Bun. Kelas XI –IPA 4. Dahh.”
Arrgh… Bruk.
“Aduh!” rintih gadis itu.
Di hadapannya berdiri seorang laki-laki bertubuh atletis yang baru saja menabrak tubuhnya hingga jatuh.
“Kalo jalan liat-liat dong!” maki laki-laki itu.
Sial rasanya berpapasan dengan laki-laki itu. Jelas-jelas dia yang salah, bukan permintaan maaf yang didengar tapi malah makian. Tak lama setelah kejadian itu lewatlah bus yang akan membawa mereka ke sekolah. Anehnya, laki-laki itu dipersilahkan duduk oleh sang kondektur, sedangkan gadis itu tetap dibiarkan berdiri.
Ketika tiba di sekolah, pintu gerbang depan telah tertutup. Laki-laki itu tampaknya tak kehilangan akal. Ditariknya tangan gadis itu untuk menuju suatu tempat.
“Heh. Lepasin!” seru gadis itu melihat tangannya ditarik sang cowok.
“Lo mau pulang atau tetap sekolah di sini?”
“Darimana lo tau gue sekolah di sini?”
“Bego. Ya dari id seragam lo-lah. Lo pasti anak baru.”
Ternyata cowok itu membawa gadis itu ke gerbang belakang sekolah mereka.
“Pak Ribut,” panggil cowok itu.
“Eh, Mas Rigel. Telat lagi, Mas.”
“Iya, Pak. Tolong bukain, Pak. Sekali ini saja?”
“Untuk yang terakhir ya Mas?”
“Iya, Pak,” sahut gadis dan cowok itu bersamaan.
“Thanks, ya. Lo udah nolong gue.”
“Siapa juga yang nolong lo?”
“Tapi lo udah bantu gue masuk sini.”
Tampaknya cowok itu tak menggubrisnya. Gadis itu tetap mengikutinya sembari mencari ruang bertuliskan XI –IPA 4, ruang kelas barunya. Ternyata cowok itu sekelas dengannya.
Hari berganti bulan, telah genap sebulan Rigel dan gadis itu berangkat sekolah bersama dan terlambat telah menjadi ritual harian mereka. Tak jarang hukuman pun menghinggapi mereka. Pada suatu siang, Lousiana teman gadis itu bertanya padanya.
“Fel,” panggil Lousiana pada Eifel, nama gadis itu.
“Eh, iya Lous.”
“Lo kok tiap hari berangkat bareng Rigel naik bus, telat bareng pula?”
“Ehm, kenapa ya? Gue sendiri juga nggak tau. Rasanya sensasinya beda kalo telat bareng Rigel. Eh, ternyata dia sekompleks lo sama gue. Gue baru tau itu kemarin.”
“Wah, jangan-jangan lo jatuh cinta sama Rigel. Hehe… Kok lo bisa tau rumah dia? Gue aja yang dari dulu sekelas nggak tau rumahnya. Dia itu kan misterius,” ledek Lousiana.
“Ya nggak lah untuk saat ini. Dia itu terlalu cuek untuk ditaklukin. Kemarin gue buntuti dia waktu pulang sekolah, habisnya gue penasaran kok tiap hari telat padahal naik bus. Emm, sebenarnya dia baik, bukan misterius, tapi cool.”
“Tu kan. Lo belain dia. Ehm, gue penasaran kenapa dia nggak pernah terlihat naik motor kayak cowok lain?”
“Iya,ya. Gue juga belum pernah lihat dia pergi naik motor. Padahal gue lihat di rumahnya kemarin ada motor balap. Emm.. entar deh gue coba tanya dia.”
“Oke. Habis gitu lapor ke gue ya?”
“Beres.”
Siang harinya ketika menunggu bus, Eifel memberanikan diri bertanya pada Rigel.
“Rigel” sapa Eifel sembari menyentuh bahu kekar laki-laki itu.
“Ada apa?”
“Aku boleh tanya?”
“Tergantung. Selama gue bisa jawab.”
“Maaf sebelumnya. Kok kamu tiap hari naik bus? Kenapa nggak ….,”
“Bukan urusan lo.”
“Rigel, maaf. Aku mau kok bantu kesulitanmu. Kalo kamu butuh teman untuk cerita, kamu bisa panggil aku. Aku akan dengarkan semua ceritamu dan berusaha ngasih solusi yang tepat.”
“Gitu ya?”
“Kok jawabnya gitu?”
“Gue mau tanya lo. Kenapa lo selalu telat? Lo mau bareng gue ya? Dan kemarin kenapa lo buntuti gue? Lo mau mata-matain gue ya? Jawab!” bentak Rigel sambil mencengkeram lengan Eifel.”
“Aduh. Lepasin gue. Iya gue mau cerita. Gue ngrasa susah buat bangun pagi akhir-akhir ini. Trus kemarin gue cuma mau tau rumah lo doang. Beneran deh.”
“Bohong!”
“Kalo aku jujur, apa kamu juga akan jujur ke aku dengan memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi?”
Sejenak suasana hening. Lalu terpecahkan oleh suara Rigel.
“Oke. Gue mau jujur ke lo tentang suatu hal. Tapi lo harus janji lo bakal jaga rahasia ini. Janji?” ucap Rigel sambil melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Eifel.
“Iya. Gue janji,” balas Eifel dengan senyum terindahnya yang membuat hati Rigel luluh.
“Ikut gue ke food court yuk sekaligus makan siang. Gue udah laper ni. Tadi belum sarapan.”
“Iya, bentar ya? Aku nelpon Bunda dulu.”
“Cepetan sana!”
Setelah menelpon Bunda dan tiba di food court, Rigel memesan makanan dan sebelum memulai ceritanya, dia bertanya pada Eifel.
“Fel, kenapa kamu mau dekat sama aku?”
“Kan nggak ada undang-undang untuk ngejauhi kamu?”
“Kata orang aku orang yang misterius. Kamu nggak takut diculik?”
“Kamu mau nyulik aku? Hehe… Ya nggak lah. Kamu itu orangnya cuek, bukan misterius. Aku tau itu sejak pertama kita bertemu, aku yakin kamu orangnya baik dan nggak bakal menculik aku karena kamu selalu nolong kesulitan aku. Inget nggak waktu pertama kali aku masuk, kita telat bersama terus masuk bareng, dihukum bareng gara-gara telat, trus kamu bantu aku cari buku saat di perpus, dan masih banyak hal baik lain yang kamu lakuin ke aku. Aku jadi ngrasa aneh kalo nggak nglakuin hal itu sama kamu.”
“Kok kamu tau aku bakal nanya alasannya?”
“Iya lah. Kita kan …..,”
“Kita kenapa?”
“Ah, nggak apa. Jadi apa masalahmu?”
“Aku memang punya motor balap, aku suka balapan sejak kecil. Orang tuaku juga support aku balapan asalkan nggak balapan liar. Aku sering menjuarai lomba balap dulu waktu SMP, hingga dia datang. Alexa membawa perubahan besar di hidupku. Dia mantan pacarku, dia nggak ingin lihat aku kecelakaan di arena balap. Dia nglarang aku balapan. Awalnya aku menolak, hingga suatu ketika dia datang ke rumahku untuk mengembalikan buku yang dia pinjam. Tiba-tiba ada motor dari arah samping melaju cepat dan menabrak dia. Dia nggak tertolong. Sejak itu aku nggak mau naik motor lagi. Aku nggak mau lihat dia sakit di sana.”
“Sorry. Tapi asal kamu tau aja. Itu murni kecelakaan. Semua bukan salah kamu. Hidup kita masih ada masa depan. Kalo kamu mau, kamu bakal jadi pembalap yang mengarungi jalan tanpa ujung. Kamu harus yakin dia sudah tenang dan dia juga akan lebih bahagia kalo kamu berhasil menggapai cita-citamu sebagai seorang pembalap.”
“Stop! Lo nggak tau tentang dia. Sepertinya gue cerita pada orang yang salah.”
Rigel lalu pergi.
….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. …… ….. ….. …..
Wajah menggambarkan kekhawatiran dengan harapan-harapan terpancar dari sosok bertubuh tegap atletis yang berdiri di depan ruang bertuliskan ICU dan tampak terkulai setelah mendengar percakapan antara pria yang berpakaian jas putih dengan seorang wanita. Pria itu mengatakan bahwa putrinya terserang tumor otak stadium 3 awal. Yang mengejutkan adalah karena gadis yang dimaksud adalah Eifel. Sejurus kemudian sosok itu melesat pergi ke arena balap liar. Tak biasanya Rigel ikut balap liar, tapi dalam hatinya membenarkan perkataan Eifel, gadis yang memberi warna di hidupnya belakangan ini. Dia harus berjuang untuk bisa mempersembahkan uang hasil kemenangannya untuk operasi gadis yang dicintainya itu.
Tapi, nasib berkata lain. Ketika akan mencapai garis finish, motor Rigel disodok dari dua arah. Dia dalam posisi terjepit dan akhirnya kehilangan keseimbangan membuatnya jatuh tersungkur. Dia kehilangan banyak darah hingga tak bisa bertahan lagi, dia menghembuskan nafas terakhirnya di dunia ini. Dunia yang menghantarkan pada kefanaan.
Ibu Sita, Bunda Eifel yang mendengar berita itu tak tega menceritakannya pada Eifel. Tiba-tiba keesokan harinya datang seorang lelaki setengah baya menghampiri Eifel dan ibunya. Orang-orang memanggilnya dengan nama Yosua, dia ayah Rigel. Yosua datang memeluk Sita dan Eifel. Dia mengatakan bahwa Rigel dan Eifel adalah saudara. Dia dulu melakukan kesalahan saat Ibu Stevie, Ibu Rigel mengandung, dia berbuat penyelewengan dengan sekretaris kantornya, Sita, yang tak lain adalah Bunda Eifel. Saat itu pula Sita mengandung benih hasil hubungan gelapnya dengan Pak Yosua. Dengan kata lain, Rigel adalah kakaknya dari ibu yang berbeda. Ini artinya Eifel tak boleh jatuh cinta pada Rigel. Tuhan memang telah mengatur skenario cintanya yang terlarang harus berakhir, padahal Rigel cinta pertamanya. Pak Yosua mengetahui kebenaran itu dari buku kecil Rigel, buku pemberian almarhumah istrinya. Setelah itu biaya operasi Eifel ditanggung Pak Yosua. Tak lama setelah itu Pak Yosua menikahi Ibu Sita dan dengan demikian resmilah Eifel sebagai putri kandungnya.
Eifel itu kini sedang duduk di sampingku, kami sama-sama menikmati perjalanan Kereta Api Sancaka Pagi. Dia hendak menyusul suaminya di Jogja dan kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang receptionist sebuah hotel di kota gudeg itu, setelah mengunjungi kedua orangtuanya di Surabaya. Aku mendengar secuil kisah hidupnya setelah sayup-sayup antara kantuk dan sadar dia awalnya menggemakan lagu yang sangat akrab di telingaku
Tak kan lagi belai lembut tubuhmu
Tak kan lagi sentuhan bibir manismu
Tak kan lagi satu di dalam dirimu
Ku merindumu
Oh kasihku dengarlah seruanku
Oh pintaku jangan lupakan diriku
Jadikanku kisah manis dalam hidupmu
Kau kekasihku…
Ya, itu reffren lagunya Delon “Merindumu”. Di akhir ceritanya dia berkata,”Aku pernah membaca sebuah novel. Di novel itu tertulis jika kau menyayangi seseorang, maka kau harus mengatakannya, begitu momen itu datang. Karena kalau tidak, maka momen itu akan pergi begitu saja dan tak akan pernah datang lagi seperti halnya cinta pertama. Lalu kau akan menyesal. Aku telah kehilangan momen itu seiring kepergian Rigel. Tuhan memang baik, memang seharusnya aku mencintai dia sebagai seorang kakak, bukan cinta pertama. Meski sekarang aku telah bersuami, namun pengalaman kepahitan cinta pertamaku akan tetap ku kenang. Dek, saya rasa kamu sedang jatuh cinta.”
“Ah, masakan terlihat Mbak?”
“Iya, jemput cintamu itu, Dek!” mendengar hal itu aku hanya bergeming.
Entah mengapa setelah mendengar ceritanya aku jadi semakin yakin untuk menyusul dia. Dia yang sekarang berada di kota pertempuran Ambarawa untuk sebuah misi, mengejar cita-citanya. Dia yang selama tiga tahun terakhir mengisi bilik hatiku. Rasanya relung ini benar-benar tak kuasa untuk menahan sebuah gejolak. Ya, akhirnya dalam pergulatan hati ini aku mengenal dia, yang orang-orang menyebutnya dengan cinta pertama. Benar, rahasia hati harus terungkap, walaupun logika ini dikalahkan hati.
Pagi itu udara dingin menyeruak kota pahlawan setelah sehari sebelumnya diguyur hujan sehingga rasanya enggan untuk beranjak dari peraduan, hingga akhirnya membawa sepasang remaja datang terlambat ke sekolah.
“Bun, berangkat ya?” ucap seorang gadis pada ibunya.
“Iya, Nak. Hati-hati. Maaf Bunda tak bisa mengantar ke sekolah barumu. Nanti yang ramah ya, Nak. Jangan lupa ….,” belum sempat Ibu itu menyelesaikan kalimatnya sudah terpotong ujaran putrinya.
“Iya, Bun. Kelas XI –IPA 4. Dahh.”
Arrgh… Bruk.
“Aduh!” rintih gadis itu.
Di hadapannya berdiri seorang laki-laki bertubuh atletis yang baru saja menabrak tubuhnya hingga jatuh.
“Kalo jalan liat-liat dong!” maki laki-laki itu.
Sial rasanya berpapasan dengan laki-laki itu. Jelas-jelas dia yang salah, bukan permintaan maaf yang didengar tapi malah makian. Tak lama setelah kejadian itu lewatlah bus yang akan membawa mereka ke sekolah. Anehnya, laki-laki itu dipersilahkan duduk oleh sang kondektur, sedangkan gadis itu tetap dibiarkan berdiri.
Ketika tiba di sekolah, pintu gerbang depan telah tertutup. Laki-laki itu tampaknya tak kehilangan akal. Ditariknya tangan gadis itu untuk menuju suatu tempat.
“Heh. Lepasin!” seru gadis itu melihat tangannya ditarik sang cowok.
“Lo mau pulang atau tetap sekolah di sini?”
“Darimana lo tau gue sekolah di sini?”
“Bego. Ya dari id seragam lo-lah. Lo pasti anak baru.”
Ternyata cowok itu membawa gadis itu ke gerbang belakang sekolah mereka.
“Pak Ribut,” panggil cowok itu.
“Eh, Mas Rigel. Telat lagi, Mas.”
“Iya, Pak. Tolong bukain, Pak. Sekali ini saja?”
“Untuk yang terakhir ya Mas?”
“Iya, Pak,” sahut gadis dan cowok itu bersamaan.
“Thanks, ya. Lo udah nolong gue.”
“Siapa juga yang nolong lo?”
“Tapi lo udah bantu gue masuk sini.”
Tampaknya cowok itu tak menggubrisnya. Gadis itu tetap mengikutinya sembari mencari ruang bertuliskan XI –IPA 4, ruang kelas barunya. Ternyata cowok itu sekelas dengannya.
Hari berganti bulan, telah genap sebulan Rigel dan gadis itu berangkat sekolah bersama dan terlambat telah menjadi ritual harian mereka. Tak jarang hukuman pun menghinggapi mereka. Pada suatu siang, Lousiana teman gadis itu bertanya padanya.
“Fel,” panggil Lousiana pada Eifel, nama gadis itu.
“Eh, iya Lous.”
“Lo kok tiap hari berangkat bareng Rigel naik bus, telat bareng pula?”
“Ehm, kenapa ya? Gue sendiri juga nggak tau. Rasanya sensasinya beda kalo telat bareng Rigel. Eh, ternyata dia sekompleks lo sama gue. Gue baru tau itu kemarin.”
“Wah, jangan-jangan lo jatuh cinta sama Rigel. Hehe… Kok lo bisa tau rumah dia? Gue aja yang dari dulu sekelas nggak tau rumahnya. Dia itu kan misterius,” ledek Lousiana.
“Ya nggak lah untuk saat ini. Dia itu terlalu cuek untuk ditaklukin. Kemarin gue buntuti dia waktu pulang sekolah, habisnya gue penasaran kok tiap hari telat padahal naik bus. Emm, sebenarnya dia baik, bukan misterius, tapi cool.”
“Tu kan. Lo belain dia. Ehm, gue penasaran kenapa dia nggak pernah terlihat naik motor kayak cowok lain?”
“Iya,ya. Gue juga belum pernah lihat dia pergi naik motor. Padahal gue lihat di rumahnya kemarin ada motor balap. Emm.. entar deh gue coba tanya dia.”
“Oke. Habis gitu lapor ke gue ya?”
“Beres.”
Siang harinya ketika menunggu bus, Eifel memberanikan diri bertanya pada Rigel.
“Rigel” sapa Eifel sembari menyentuh bahu kekar laki-laki itu.
“Ada apa?”
“Aku boleh tanya?”
“Tergantung. Selama gue bisa jawab.”
“Maaf sebelumnya. Kok kamu tiap hari naik bus? Kenapa nggak ….,”
“Bukan urusan lo.”
“Rigel, maaf. Aku mau kok bantu kesulitanmu. Kalo kamu butuh teman untuk cerita, kamu bisa panggil aku. Aku akan dengarkan semua ceritamu dan berusaha ngasih solusi yang tepat.”
“Gitu ya?”
“Kok jawabnya gitu?”
“Gue mau tanya lo. Kenapa lo selalu telat? Lo mau bareng gue ya? Dan kemarin kenapa lo buntuti gue? Lo mau mata-matain gue ya? Jawab!” bentak Rigel sambil mencengkeram lengan Eifel.”
“Aduh. Lepasin gue. Iya gue mau cerita. Gue ngrasa susah buat bangun pagi akhir-akhir ini. Trus kemarin gue cuma mau tau rumah lo doang. Beneran deh.”
“Bohong!”
“Kalo aku jujur, apa kamu juga akan jujur ke aku dengan memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi?”
Sejenak suasana hening. Lalu terpecahkan oleh suara Rigel.
“Oke. Gue mau jujur ke lo tentang suatu hal. Tapi lo harus janji lo bakal jaga rahasia ini. Janji?” ucap Rigel sambil melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Eifel.
“Iya. Gue janji,” balas Eifel dengan senyum terindahnya yang membuat hati Rigel luluh.
“Ikut gue ke food court yuk sekaligus makan siang. Gue udah laper ni. Tadi belum sarapan.”
“Iya, bentar ya? Aku nelpon Bunda dulu.”
“Cepetan sana!”
Setelah menelpon Bunda dan tiba di food court, Rigel memesan makanan dan sebelum memulai ceritanya, dia bertanya pada Eifel.
“Fel, kenapa kamu mau dekat sama aku?”
“Kan nggak ada undang-undang untuk ngejauhi kamu?”
“Kata orang aku orang yang misterius. Kamu nggak takut diculik?”
“Kamu mau nyulik aku? Hehe… Ya nggak lah. Kamu itu orangnya cuek, bukan misterius. Aku tau itu sejak pertama kita bertemu, aku yakin kamu orangnya baik dan nggak bakal menculik aku karena kamu selalu nolong kesulitan aku. Inget nggak waktu pertama kali aku masuk, kita telat bersama terus masuk bareng, dihukum bareng gara-gara telat, trus kamu bantu aku cari buku saat di perpus, dan masih banyak hal baik lain yang kamu lakuin ke aku. Aku jadi ngrasa aneh kalo nggak nglakuin hal itu sama kamu.”
“Kok kamu tau aku bakal nanya alasannya?”
“Iya lah. Kita kan …..,”
“Kita kenapa?”
“Ah, nggak apa. Jadi apa masalahmu?”
“Aku memang punya motor balap, aku suka balapan sejak kecil. Orang tuaku juga support aku balapan asalkan nggak balapan liar. Aku sering menjuarai lomba balap dulu waktu SMP, hingga dia datang. Alexa membawa perubahan besar di hidupku. Dia mantan pacarku, dia nggak ingin lihat aku kecelakaan di arena balap. Dia nglarang aku balapan. Awalnya aku menolak, hingga suatu ketika dia datang ke rumahku untuk mengembalikan buku yang dia pinjam. Tiba-tiba ada motor dari arah samping melaju cepat dan menabrak dia. Dia nggak tertolong. Sejak itu aku nggak mau naik motor lagi. Aku nggak mau lihat dia sakit di sana.”
“Sorry. Tapi asal kamu tau aja. Itu murni kecelakaan. Semua bukan salah kamu. Hidup kita masih ada masa depan. Kalo kamu mau, kamu bakal jadi pembalap yang mengarungi jalan tanpa ujung. Kamu harus yakin dia sudah tenang dan dia juga akan lebih bahagia kalo kamu berhasil menggapai cita-citamu sebagai seorang pembalap.”
“Stop! Lo nggak tau tentang dia. Sepertinya gue cerita pada orang yang salah.”
Rigel lalu pergi.
….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. …… ….. ….. …..
Wajah menggambarkan kekhawatiran dengan harapan-harapan terpancar dari sosok bertubuh tegap atletis yang berdiri di depan ruang bertuliskan ICU dan tampak terkulai setelah mendengar percakapan antara pria yang berpakaian jas putih dengan seorang wanita. Pria itu mengatakan bahwa putrinya terserang tumor otak stadium 3 awal. Yang mengejutkan adalah karena gadis yang dimaksud adalah Eifel. Sejurus kemudian sosok itu melesat pergi ke arena balap liar. Tak biasanya Rigel ikut balap liar, tapi dalam hatinya membenarkan perkataan Eifel, gadis yang memberi warna di hidupnya belakangan ini. Dia harus berjuang untuk bisa mempersembahkan uang hasil kemenangannya untuk operasi gadis yang dicintainya itu.
Tapi, nasib berkata lain. Ketika akan mencapai garis finish, motor Rigel disodok dari dua arah. Dia dalam posisi terjepit dan akhirnya kehilangan keseimbangan membuatnya jatuh tersungkur. Dia kehilangan banyak darah hingga tak bisa bertahan lagi, dia menghembuskan nafas terakhirnya di dunia ini. Dunia yang menghantarkan pada kefanaan.
Ibu Sita, Bunda Eifel yang mendengar berita itu tak tega menceritakannya pada Eifel. Tiba-tiba keesokan harinya datang seorang lelaki setengah baya menghampiri Eifel dan ibunya. Orang-orang memanggilnya dengan nama Yosua, dia ayah Rigel. Yosua datang memeluk Sita dan Eifel. Dia mengatakan bahwa Rigel dan Eifel adalah saudara. Dia dulu melakukan kesalahan saat Ibu Stevie, Ibu Rigel mengandung, dia berbuat penyelewengan dengan sekretaris kantornya, Sita, yang tak lain adalah Bunda Eifel. Saat itu pula Sita mengandung benih hasil hubungan gelapnya dengan Pak Yosua. Dengan kata lain, Rigel adalah kakaknya dari ibu yang berbeda. Ini artinya Eifel tak boleh jatuh cinta pada Rigel. Tuhan memang telah mengatur skenario cintanya yang terlarang harus berakhir, padahal Rigel cinta pertamanya. Pak Yosua mengetahui kebenaran itu dari buku kecil Rigel, buku pemberian almarhumah istrinya. Setelah itu biaya operasi Eifel ditanggung Pak Yosua. Tak lama setelah itu Pak Yosua menikahi Ibu Sita dan dengan demikian resmilah Eifel sebagai putri kandungnya.
Eifel itu kini sedang duduk di sampingku, kami sama-sama menikmati perjalanan Kereta Api Sancaka Pagi. Dia hendak menyusul suaminya di Jogja dan kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang receptionist sebuah hotel di kota gudeg itu, setelah mengunjungi kedua orangtuanya di Surabaya. Aku mendengar secuil kisah hidupnya setelah sayup-sayup antara kantuk dan sadar dia awalnya menggemakan lagu yang sangat akrab di telingaku
Tak kan lagi belai lembut tubuhmu
Tak kan lagi sentuhan bibir manismu
Tak kan lagi satu di dalam dirimu
Ku merindumu
Oh kasihku dengarlah seruanku
Oh pintaku jangan lupakan diriku
Jadikanku kisah manis dalam hidupmu
Kau kekasihku…
Ya, itu reffren lagunya Delon “Merindumu”. Di akhir ceritanya dia berkata,”Aku pernah membaca sebuah novel. Di novel itu tertulis jika kau menyayangi seseorang, maka kau harus mengatakannya, begitu momen itu datang. Karena kalau tidak, maka momen itu akan pergi begitu saja dan tak akan pernah datang lagi seperti halnya cinta pertama. Lalu kau akan menyesal. Aku telah kehilangan momen itu seiring kepergian Rigel. Tuhan memang baik, memang seharusnya aku mencintai dia sebagai seorang kakak, bukan cinta pertama. Meski sekarang aku telah bersuami, namun pengalaman kepahitan cinta pertamaku akan tetap ku kenang. Dek, saya rasa kamu sedang jatuh cinta.”
“Ah, masakan terlihat Mbak?”
“Iya, jemput cintamu itu, Dek!” mendengar hal itu aku hanya bergeming.
Entah mengapa setelah mendengar ceritanya aku jadi semakin yakin untuk menyusul dia. Dia yang sekarang berada di kota pertempuran Ambarawa untuk sebuah misi, mengejar cita-citanya. Dia yang selama tiga tahun terakhir mengisi bilik hatiku. Rasanya relung ini benar-benar tak kuasa untuk menahan sebuah gejolak. Ya, akhirnya dalam pergulatan hati ini aku mengenal dia, yang orang-orang menyebutnya dengan cinta pertama. Benar, rahasia hati harus terungkap, walaupun logika ini dikalahkan hati.
Langganan:
Komentar (Atom)