ARRGH! CINTA PERTAMA?
Pagi itu udara dingin menyeruak kota pahlawan setelah sehari sebelumnya diguyur hujan sehingga rasanya enggan untuk beranjak dari peraduan, hingga akhirnya membawa sepasang remaja datang terlambat ke sekolah.
“Bun, berangkat ya?” ucap seorang gadis pada ibunya.
“Iya, Nak. Hati-hati. Maaf Bunda tak bisa mengantar ke sekolah barumu. Nanti yang ramah ya, Nak. Jangan lupa ….,” belum sempat Ibu itu menyelesaikan kalimatnya sudah terpotong ujaran putrinya.
“Iya, Bun. Kelas XI –IPA 4. Dahh.”
Arrgh… Bruk.
“Aduh!” rintih gadis itu.
Di hadapannya berdiri seorang laki-laki bertubuh atletis yang baru saja menabrak tubuhnya hingga jatuh.
“Kalo jalan liat-liat dong!” maki laki-laki itu.
Sial rasanya berpapasan dengan laki-laki itu. Jelas-jelas dia yang salah, bukan permintaan maaf yang didengar tapi malah makian. Tak lama setelah kejadian itu lewatlah bus yang akan membawa mereka ke sekolah. Anehnya, laki-laki itu dipersilahkan duduk oleh sang kondektur, sedangkan gadis itu tetap dibiarkan berdiri.
Ketika tiba di sekolah, pintu gerbang depan telah tertutup. Laki-laki itu tampaknya tak kehilangan akal. Ditariknya tangan gadis itu untuk menuju suatu tempat.
“Heh. Lepasin!” seru gadis itu melihat tangannya ditarik sang cowok.
“Lo mau pulang atau tetap sekolah di sini?”
“Darimana lo tau gue sekolah di sini?”
“Bego. Ya dari id seragam lo-lah. Lo pasti anak baru.”
Ternyata cowok itu membawa gadis itu ke gerbang belakang sekolah mereka.
“Pak Ribut,” panggil cowok itu.
“Eh, Mas Rigel. Telat lagi, Mas.”
“Iya, Pak. Tolong bukain, Pak. Sekali ini saja?”
“Untuk yang terakhir ya Mas?”
“Iya, Pak,” sahut gadis dan cowok itu bersamaan.
“Thanks, ya. Lo udah nolong gue.”
“Siapa juga yang nolong lo?”
“Tapi lo udah bantu gue masuk sini.”
Tampaknya cowok itu tak menggubrisnya. Gadis itu tetap mengikutinya sembari mencari ruang bertuliskan XI –IPA 4, ruang kelas barunya. Ternyata cowok itu sekelas dengannya.
Hari berganti bulan, telah genap sebulan Rigel dan gadis itu berangkat sekolah bersama dan terlambat telah menjadi ritual harian mereka. Tak jarang hukuman pun menghinggapi mereka. Pada suatu siang, Lousiana teman gadis itu bertanya padanya.
“Fel,” panggil Lousiana pada Eifel, nama gadis itu.
“Eh, iya Lous.”
“Lo kok tiap hari berangkat bareng Rigel naik bus, telat bareng pula?”
“Ehm, kenapa ya? Gue sendiri juga nggak tau. Rasanya sensasinya beda kalo telat bareng Rigel. Eh, ternyata dia sekompleks lo sama gue. Gue baru tau itu kemarin.”
“Wah, jangan-jangan lo jatuh cinta sama Rigel. Hehe… Kok lo bisa tau rumah dia? Gue aja yang dari dulu sekelas nggak tau rumahnya. Dia itu kan misterius,” ledek Lousiana.
“Ya nggak lah untuk saat ini. Dia itu terlalu cuek untuk ditaklukin. Kemarin gue buntuti dia waktu pulang sekolah, habisnya gue penasaran kok tiap hari telat padahal naik bus. Emm, sebenarnya dia baik, bukan misterius, tapi cool.”
“Tu kan. Lo belain dia. Ehm, gue penasaran kenapa dia nggak pernah terlihat naik motor kayak cowok lain?”
“Iya,ya. Gue juga belum pernah lihat dia pergi naik motor. Padahal gue lihat di rumahnya kemarin ada motor balap. Emm.. entar deh gue coba tanya dia.”
“Oke. Habis gitu lapor ke gue ya?”
“Beres.”
Siang harinya ketika menunggu bus, Eifel memberanikan diri bertanya pada Rigel.
“Rigel” sapa Eifel sembari menyentuh bahu kekar laki-laki itu.
“Ada apa?”
“Aku boleh tanya?”
“Tergantung. Selama gue bisa jawab.”
“Maaf sebelumnya. Kok kamu tiap hari naik bus? Kenapa nggak ….,”
“Bukan urusan lo.”
“Rigel, maaf. Aku mau kok bantu kesulitanmu. Kalo kamu butuh teman untuk cerita, kamu bisa panggil aku. Aku akan dengarkan semua ceritamu dan berusaha ngasih solusi yang tepat.”
“Gitu ya?”
“Kok jawabnya gitu?”
“Gue mau tanya lo. Kenapa lo selalu telat? Lo mau bareng gue ya? Dan kemarin kenapa lo buntuti gue? Lo mau mata-matain gue ya? Jawab!” bentak Rigel sambil mencengkeram lengan Eifel.”
“Aduh. Lepasin gue. Iya gue mau cerita. Gue ngrasa susah buat bangun pagi akhir-akhir ini. Trus kemarin gue cuma mau tau rumah lo doang. Beneran deh.”
“Bohong!”
“Kalo aku jujur, apa kamu juga akan jujur ke aku dengan memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi?”
Sejenak suasana hening. Lalu terpecahkan oleh suara Rigel.
“Oke. Gue mau jujur ke lo tentang suatu hal. Tapi lo harus janji lo bakal jaga rahasia ini. Janji?” ucap Rigel sambil melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Eifel.
“Iya. Gue janji,” balas Eifel dengan senyum terindahnya yang membuat hati Rigel luluh.
“Ikut gue ke food court yuk sekaligus makan siang. Gue udah laper ni. Tadi belum sarapan.”
“Iya, bentar ya? Aku nelpon Bunda dulu.”
“Cepetan sana!”
Setelah menelpon Bunda dan tiba di food court, Rigel memesan makanan dan sebelum memulai ceritanya, dia bertanya pada Eifel.
“Fel, kenapa kamu mau dekat sama aku?”
“Kan nggak ada undang-undang untuk ngejauhi kamu?”
“Kata orang aku orang yang misterius. Kamu nggak takut diculik?”
“Kamu mau nyulik aku? Hehe… Ya nggak lah. Kamu itu orangnya cuek, bukan misterius. Aku tau itu sejak pertama kita bertemu, aku yakin kamu orangnya baik dan nggak bakal menculik aku karena kamu selalu nolong kesulitan aku. Inget nggak waktu pertama kali aku masuk, kita telat bersama terus masuk bareng, dihukum bareng gara-gara telat, trus kamu bantu aku cari buku saat di perpus, dan masih banyak hal baik lain yang kamu lakuin ke aku. Aku jadi ngrasa aneh kalo nggak nglakuin hal itu sama kamu.”
“Kok kamu tau aku bakal nanya alasannya?”
“Iya lah. Kita kan …..,”
“Kita kenapa?”
“Ah, nggak apa. Jadi apa masalahmu?”
“Aku memang punya motor balap, aku suka balapan sejak kecil. Orang tuaku juga support aku balapan asalkan nggak balapan liar. Aku sering menjuarai lomba balap dulu waktu SMP, hingga dia datang. Alexa membawa perubahan besar di hidupku. Dia mantan pacarku, dia nggak ingin lihat aku kecelakaan di arena balap. Dia nglarang aku balapan. Awalnya aku menolak, hingga suatu ketika dia datang ke rumahku untuk mengembalikan buku yang dia pinjam. Tiba-tiba ada motor dari arah samping melaju cepat dan menabrak dia. Dia nggak tertolong. Sejak itu aku nggak mau naik motor lagi. Aku nggak mau lihat dia sakit di sana.”
“Sorry. Tapi asal kamu tau aja. Itu murni kecelakaan. Semua bukan salah kamu. Hidup kita masih ada masa depan. Kalo kamu mau, kamu bakal jadi pembalap yang mengarungi jalan tanpa ujung. Kamu harus yakin dia sudah tenang dan dia juga akan lebih bahagia kalo kamu berhasil menggapai cita-citamu sebagai seorang pembalap.”
“Stop! Lo nggak tau tentang dia. Sepertinya gue cerita pada orang yang salah.”
Rigel lalu pergi.
….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. ….. …… ….. ….. …..
Wajah menggambarkan kekhawatiran dengan harapan-harapan terpancar dari sosok bertubuh tegap atletis yang berdiri di depan ruang bertuliskan ICU dan tampak terkulai setelah mendengar percakapan antara pria yang berpakaian jas putih dengan seorang wanita. Pria itu mengatakan bahwa putrinya terserang tumor otak stadium 3 awal. Yang mengejutkan adalah karena gadis yang dimaksud adalah Eifel. Sejurus kemudian sosok itu melesat pergi ke arena balap liar. Tak biasanya Rigel ikut balap liar, tapi dalam hatinya membenarkan perkataan Eifel, gadis yang memberi warna di hidupnya belakangan ini. Dia harus berjuang untuk bisa mempersembahkan uang hasil kemenangannya untuk operasi gadis yang dicintainya itu.
Tapi, nasib berkata lain. Ketika akan mencapai garis finish, motor Rigel disodok dari dua arah. Dia dalam posisi terjepit dan akhirnya kehilangan keseimbangan membuatnya jatuh tersungkur. Dia kehilangan banyak darah hingga tak bisa bertahan lagi, dia menghembuskan nafas terakhirnya di dunia ini. Dunia yang menghantarkan pada kefanaan.
Ibu Sita, Bunda Eifel yang mendengar berita itu tak tega menceritakannya pada Eifel. Tiba-tiba keesokan harinya datang seorang lelaki setengah baya menghampiri Eifel dan ibunya. Orang-orang memanggilnya dengan nama Yosua, dia ayah Rigel. Yosua datang memeluk Sita dan Eifel. Dia mengatakan bahwa Rigel dan Eifel adalah saudara. Dia dulu melakukan kesalahan saat Ibu Stevie, Ibu Rigel mengandung, dia berbuat penyelewengan dengan sekretaris kantornya, Sita, yang tak lain adalah Bunda Eifel. Saat itu pula Sita mengandung benih hasil hubungan gelapnya dengan Pak Yosua. Dengan kata lain, Rigel adalah kakaknya dari ibu yang berbeda. Ini artinya Eifel tak boleh jatuh cinta pada Rigel. Tuhan memang telah mengatur skenario cintanya yang terlarang harus berakhir, padahal Rigel cinta pertamanya. Pak Yosua mengetahui kebenaran itu dari buku kecil Rigel, buku pemberian almarhumah istrinya. Setelah itu biaya operasi Eifel ditanggung Pak Yosua. Tak lama setelah itu Pak Yosua menikahi Ibu Sita dan dengan demikian resmilah Eifel sebagai putri kandungnya.
Eifel itu kini sedang duduk di sampingku, kami sama-sama menikmati perjalanan Kereta Api Sancaka Pagi. Dia hendak menyusul suaminya di Jogja dan kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang receptionist sebuah hotel di kota gudeg itu, setelah mengunjungi kedua orangtuanya di Surabaya. Aku mendengar secuil kisah hidupnya setelah sayup-sayup antara kantuk dan sadar dia awalnya menggemakan lagu yang sangat akrab di telingaku
Tak kan lagi belai lembut tubuhmu
Tak kan lagi sentuhan bibir manismu
Tak kan lagi satu di dalam dirimu
Ku merindumu
Oh kasihku dengarlah seruanku
Oh pintaku jangan lupakan diriku
Jadikanku kisah manis dalam hidupmu
Kau kekasihku…
Ya, itu reffren lagunya Delon “Merindumu”. Di akhir ceritanya dia berkata,”Aku pernah membaca sebuah novel. Di novel itu tertulis jika kau menyayangi seseorang, maka kau harus mengatakannya, begitu momen itu datang. Karena kalau tidak, maka momen itu akan pergi begitu saja dan tak akan pernah datang lagi seperti halnya cinta pertama. Lalu kau akan menyesal. Aku telah kehilangan momen itu seiring kepergian Rigel. Tuhan memang baik, memang seharusnya aku mencintai dia sebagai seorang kakak, bukan cinta pertama. Meski sekarang aku telah bersuami, namun pengalaman kepahitan cinta pertamaku akan tetap ku kenang. Dek, saya rasa kamu sedang jatuh cinta.”
“Ah, masakan terlihat Mbak?”
“Iya, jemput cintamu itu, Dek!” mendengar hal itu aku hanya bergeming.
Entah mengapa setelah mendengar ceritanya aku jadi semakin yakin untuk menyusul dia. Dia yang sekarang berada di kota pertempuran Ambarawa untuk sebuah misi, mengejar cita-citanya. Dia yang selama tiga tahun terakhir mengisi bilik hatiku. Rasanya relung ini benar-benar tak kuasa untuk menahan sebuah gejolak. Ya, akhirnya dalam pergulatan hati ini aku mengenal dia, yang orang-orang menyebutnya dengan cinta pertama. Benar, rahasia hati harus terungkap, walaupun logika ini dikalahkan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar