CINTA TAK DAPAT DIPREDIKSI
Pagi itu, SMA ST. VINCENTIUS heboh. Heboh bukan karena ada event besar, tapi karena kedatangan anak baru yang bisa dikatakan idaman para kaum adam. Bagaimana tidak, dara baru ini perawakannya sporty dan style-nya feminim. Tentu saja hal ini membuat iri para gadis SMA ST. VINCENTIUS tak terkecuali Ave. Baru kali ini Ave membenci anak baru, bukan karena kecantikan yang dimiliki namun karena sewaktu SD mereka bermusuhan.
“Eva Emmerick, perkenalkan dirimu di depan kelas barumu!” seru Bu Mischa, guru mata pelajaran Biologi kelas X-5.
“Baik Bu. Teman-teman perkenalkan nama saya Eva Emmerick. Panggil saja saya Eva. Saya lahir di Jogya dan dari kecil sampai SD tinggal di Jogya. Lalu, mulai SMP saya pindah di Surabaya. Selanjutnya sekarang saya pindah kembali ke Jogya. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua.”
“Wuih, Ve. Namanya mirip namamu.”
“Mirip kata loe? Cih, Jangan pernah samain gue sama dia. Amit-amit.”
“Eva silahkan duduk di samping Natanhael. Dia bintang kelas ini, jadi selama kamu ada kesulitan, kamu bisa langsung menanyakannya. Natan, tolong kamu bantu Eva bila dia mengalami kesulitan. Dan Ave, sementara kamu duduk di depan, di samping Alex!”perintah Bu Mischa.
“Tapi, Bu” elak Ave.
“Michellina Ave, untuk sementara saja. Ibu tahu kalian telah bersahabat dari SMP, tapi sekarang teman kalian sedang membutuhkan bantuan kalian.”
“Siap, Bu” seru Natan dengan semangat.
“Ih!” gerutu Ave sambil menginjak kaki Natan dengan kesal.
“Auw.”
Akhirnya Ave menuruti perintah Bu Mischa dan pelajaran subbab ekosistem pun dilanjutkan.
…..….. ………. …..….. …..….. ……….
“Huh. Sebel gue. Kenapa anak ingusan itu muncul lagi di kehidupan gue. Dasar sampah masyarakat. Masalah datang deh. Musibah kalo dia duduk di samping Natan. Jealous. Jealous” maki Ave selama perjalanan pulang yang waktu itu tak ditemani Natan yang masih sibuk menemani Eva mengejar materi yang belum dia pahami.
Semakin hari kedekatan antara Eva dan Natan semakin mencolok. Tentu saja hal ini membuat Ave uring-uringan. Setiap bertemu dengan teman-teman Ave, pasti yang mereka tanyakan adalah kedekatan Eva dan Natan. Setiap ngobrol dengan Natan pun, Natan gencar menceritakan keakrabannya dengan Eva.
Siang itu, OSIS SMA ST. VINCENTIUS mengadakan rapat untuk membahas persiapan festival band untuk puncak acara HUT SMA ST. VINCENTIUS. Tiba-tiba Ave marah dan membentak Willam, koordinator sie perlengkapan yang kala itu menanyakan pendapat berkaitan property festival. Untungnya William diam saja dan tak membalas makian adik kelas yang jelas-jelas salah.
“Ve, nanti malam aku mau cerita.”
Begitu bunyi SMS dari Natan yang diterima Ave sepulangnya dari sekolah. Ave tak membalas. Sejurus dia diam. Mencoba menebak apa yang akan menjadi topik nanti malam. Tiba-tiba lamunan Ave buyar.
“Pasti cewek sialan itu lagi!” teriak Ave dari dalam kamarnya.
“Ada apa Ve? Siapa yang sial? Sial kenapa?” tanya Cornel, kakak Ave.
“Nggak ada apa-apa Mas.”
Prediksi Ave tak meleset. Malam itu Natan cerita tentang banyak hal, tak terkecuali Eva. Rasanya sesak dada Ave mendengar pengakuan Natan di salah satu ceritanya jika dia menyukai Eva. Seusai percakapan mereka di telepon, langsung disambarnya Roman, buku diary Ave yang setiap lembarnya tak pernah absen dari nama Natan. Ave lalu menangis dan mulai menulis cerita tentang hal apa yang baru saja didengarnya dari Natan. Paginya, ketika Ave masih terlelap, Cornel masuk ke kamar Ave dan seketika itu dibacanya diary yang masih digenggam Ave. Bunyi dering weker Ave yang membuat Cornel menyudahi membaca diary Ave dan cepat-cepat mengembalikannya di genggaman adiknya.
Sore hari Cornel meluncur ke sekolah Ave untuk menjemputnya mengingat pagi harinya adik semata wayangnya itu berangkat dengan naik angkot. Di saat menunggu itu, William lewat dan Cornel menyuruhnya untuk berhenti lalu menanyakan keberadaan Ave. William menjawab kalo Ave sedang ikut ekstra. Semula William sempat jealous dan salting melihat dan mendengar bahwa lelaki tampan yang ada dihadapannya menanyakan tentang Ave. Dari sikap yang ditunjukkan William, Cornel tahu jika William sedang jatuh cinta pada adiknya. Lama mereka bercakap-cakap, termasuk cerita tentang Natan dan dari percakapan itu William tahu bahwa lelaki tampan itu adalah kakak Ave.
Benar saja, seminggu kemudian Natan dan Eva jadian. Tentu saja hal ini membuat Ave frustasi dan ingin pindah sekolah. Niat ini sudah diutarakannya pada Cornel yang kemudian Cornel ceritakan pada William.
“Ve, jangan pindah.”
“Apa-apaan sih lo, kak. Tangan loe juga ngapain nahan tahan gue!”
“Gue mohon loe jangan pindah sekolah.”
“Darimana loe tau gue mau pindah?”
“Pertanyaan itu nggak perlu gue jawab. Yang penting sekarang loe tunggu gue di depan gerbang sekolah.”
“Tapi buat apa?”
Pertanyaan Ave yang terakhir tak digubris William yang kemudian pergi menuju tempat parkir. Tak lama kemudian Ave dan William telah berada di kawasan rumah kumuh setelah berhasil pergi dari sekolah dengan alasan pergi membeli property festival band. Mereka menuju salah satu rumah yang penghuninya adalah seorang nenek tua yang renta dan hidupnya sebatang kara. Nenek itu terlihat kurus sekali, tapi dia tetap bekerja dengan mesin jahitnya yang telah usang. Sedikitpun tak pernah terlontar keluhan dari mulut sang nenek. Tak banyak yang Ave tanyakan melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
William telah memberi pencerahan di hidup Ave. Akhirnya Ave urungkan niat untuk pindah sekolah. Satu tahun lebih telah berlalu dengan cepat. Tak terasa William telah menyelesaikan UNAS dan kini dia juga telah diterima di salah satu universitas ternama di ibukota. Hal ini mengharuskan kedekatan antara dirinya dan Ave semakin renggang, apalagi setelah status fb William yang berubah dari Complicated menjadi in relationship.
Hubungan Natan dan Eva ternyata hanya bertahan sampai 10 bulan. Kandasnya hubungan mereka dipicu oleh sifat manja Eva yang semakin hari semakin kentara. Setelah Natan putus dari Eva, dia kembali dekat dengan Ave. Tak butuh waktu yang lama untuk menjalin keakraban lagi bagi Natan dan Ave. Memori-memori lama bersama Natan mulai bermunculan. Hal ini membuat hati Ave terusik. Di saat itu, Natan mengutarakan niatnya untuk menjadikan Ave sebagai pujaan hatinya. Hal ini sebenarnya telah dinantikan Ave sejak lama, namun ketika kesempatan itu datang, Ave malah lari.
Selama Natan jadian dengan Eva, Ave sadar jika cinta tak bisa dipaksakan. Dia berusaha merelakan Natan untuk menjalin hubungan dengan Eva dan meredam permusuhannya dengan Eva. Semua itu berkat bantuan seseorang. Seseorang ini telah membuat warna di hidupnya. Sosok ini pula yang dirindukan Ave akhir-akhir ini. Sosok yang membuatnya bisa tegar setegar batu karang yang tak henti diterpa gelombang. Sosok yang dirindukannya tak lain adalah William.
Akhirnya waktu liburan semester tiba, Ave datang untuk menjemput William di terminal. Seketika itu juga terperanjaklah William melihat Ave datang berlari ke arahnya.
“Kak William, lama nggak bertemu. Gimana kabarmu?”
“Baik, Ve. Ve, kok kamu tau hari ini aku pulang?”
“Aku tau dari status fb-mu kak. Aku mau tanya, please jawab dengan jujur.”
“Tentang apa? Kelihatannya serius.”
“Apa kakak sudah punya pacar?”
“Kenapa kamu tanya tentang hal ini?”
“Please kak, jawab iya atau tidak.”
“Well, perhaps now is good time to say about honesty. Since 2nd grade in Senior High School there was one girl, who always makes my life spirit. She always attend in my dream, she always can make me laugh. Do you know who is she?”
“Surely I don’t know about her.”
“Now, she is stand up in front of me.”
“What? Is it true what I’ve heard?”
“She is you.”
“So?”
“So, actually at my fb is lie. I put that status because I want to concentrate to UNAS. And actually your brother knew it. Exactly, he makes me realize about my truly feeling.”
“My brother know about it? It’s mean that he is people who was behind the scenario?”
“No. But, love is can’t predict.”
Cerpennya bagus. Sekedar usul kalau bisa dipisah-pisah dalam paragrap agar pembaca tidak bingung :D
BalasHapus